Bank Indonesia Ungkap Sinyal Positif di Balik Perlambatan Ekonomi Sulbar

waktu baca 3 menit
KPw BI Sulbar saat memaparkan kondisi terkini perekonomian Sulbar melalui kegiatan Sipakada Media.

Sulbar – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) pada triwulan I tahun 2026 melambat secara tahunan atau year on year (yoy).

Ekonomi Sulbar sejak Januari hingga Maret 2026 tumbuh 5,33 persen. Angka tersebut lebih rendah dari nasional yang mencapai 5,61 persen atau terpaut 0,28 poin persentase.

Capaian tersebut juga melambat dibandingkan periode yang sama di tahun 2025 yang menyentuh angka 6,54 persen. Lebih tinggi 1,21 poin persentase.

Meski melambat, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sulbar, menilai dinamika itu lumrah dalam siklus ekonomi.

Deputi Kepala KPw BI Sulbar, Erdi Fiat Gumilang, menilai pertumbuhan ekonomi Sulbar masih berada dalam kondisi positif. Menurut dia, capaian pertumbuhan di atas lima persen menunjukkan daya tahan ekonomi daerah masih terjaga.

“Pertumbuhan ekonomi Sulbar masih bagus. Angka di atas lima persen masih terjaga. Ini satu hal yang positif,” ujar Gumilang.

Menurut dia, pergerakan ekonomi Sulbar memang mengalami siklus naik dan turun. Kondisi itu wajar dalam business cycle atau  aktivitas bisnis sebab mengikuti permintaan pasar. Kondisi serupa berlaku pada dinamika ekonomi daerah.

“Ada fase naik dan ada kalanya turun. Itu hal yang biasa,” ucapnya.

Dari balik perlambatan itu, KPw BI justru melihat tren ekonomi Sulbar secara jangka panjang menunjukkan arah positif. Menurut Gumilang, tren pertumbuhan Sulbar masih bergerak meningkat meski terjadi fluktuasi dalam beberapa periode.

“Kalau dilihat, tren Sulbar terus meningkat. Itu yang kami nilai positif,” jelas Gumilang.

Ia bahkan menilai tren ekonomi Sulbar lebih progresif dibanding nasional. Sebab, grafik pertumbuhan ekonomi nasional cenderung bergerak datar, sedangkan Sulbar masih menunjukkan kecenderungan meningkat.

“Nasional cenderung datar, sementara Sulbar trennya masih naik meski siklusnya bergerak naik turun,” ungkapnya.

Penyumbang Dominan Pertumbuhan Ekonomi

Gumilang menyebut sektor pertanian masih mendominasi struktur ekonomi Sulbar. Pada triwulan I 2026, sektor tersebut tumbuh 4,23 persen. Sementara industri pengolahan tumbuh 5,43 persen.

“Meskipun keduanya cenderung melambat, capaian itu masih bagus,” beber Gumilang.

Selain pertanian dan industri pengolahan, sektor konstruksi turut menjadi penopang utama ekonomi daerah. KPw BI mencatat sektor konstruksi tumbuh cukup tinggi hingga 9,58 persen dari sisi lapangan usaha.

Menurut Gumilang, pertumbuhan konstruksi ditopang realisasi belanja pemerintah, terutama proyek yang bersumber dari APBN.

“Konstruksi pemerintah cukup dominan, khususnya yang berasal dari APBN,” paparnya.

Di sisi pengeluaran, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga menunjukkan penguatan. Pada triwulan I 2026, PMTB Sulbar tercatat tumbuh 5,14 persen.

KPw BI juga melihat konsumsi rumah tangga masih terjaga dan menjadi salah satu motor utama ekonomi Sulbar. Konsumsi rumah tangga tumbuh dari 5,29 persen menjadi 5,35 persen.

Gumilang menyebut struktur ekonomi Sulbar masih mirip dengan pola nasional, yakni bertumpu pada konsumsi rumah tangga sebelum ditopang ekspor.

“Konsumsi rumah tangga masih terjaga di atas lima persen dan ini cukup positif. Struktur ekonomi Sulbar hampir mirip nasional, di mana konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama sebelum ekspor,” pungkas Gumilang.