Sandeq Silumba 2026 Tetap Digelar, Rute Dipangkas karena Keterbatasan Anggaran
Sulbar — Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) memastikan Sandeq Silumba 2026 tetap berlangsung meski dengan skala yang lebih terbatas.
Keterbatasan anggaran membuat rute lomba dipangkas dan pelaksanaan hanya mencakup wilayah Kabupaten Majene dan Kabupaten Polewali Mandar.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat Dewan Pengarah Sandeq bersama para passandeq. Dewan Pengarah Sandeq Syamsul Samad mengatakan, pemerintah provinsi tetap menyiapkan hadiah bagi peserta agar pelaksanaan tradisi bahari itu dapat terus berlanjut.
“(Sandeq Silumba) dilaksanakan lokal di 2 kabupaten yaitu Majene dan Polman, hadiahnya disiapkan oleh Pemprov,” ujar Syamsul saat dikonfirmasi, Selasa (30/6).
Berbeda dengan penyelenggaraan tahun 2025 yang menempuh rute sekitar 231 kilometer dari Pantai Bahari di Kabupaten Polewali Mandar menuju Mamuju dan berakhir setelah mengelilingi Pulau Karampuang, tahun ini lintasan menuju Mamuju ditiadakan.
Menurut Syamsul, penyesuaian tersebut merupakan konsekuensi dari efisiensi anggaran. Di sisi lain, jumlah peserta meningkat dari 55 menjadi 95 perahu sandeq sehingga kebutuhan pembiayaan diperkirakan hampir dua kali lipat dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya.
Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka meminta Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar, Majene, dan Mamuju mengalokasikan anggaran masing-masing Rp1 miliar untuk mendukung penyelenggaraan Sandeq Silumba.
Namun, kemampuan fiskal masing-masing daerah belum memungkinkan. Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar mengalokasikan sekitar Rp400 juta, Kabupaten Majene sekitar Rp150 juta, sedangkan Pemerintah Kabupaten Mamuju mengalokasikan Rp1 miliar.
Dengan kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat bersama Dewan Pengarah Sandeq memilih tetap melaksanakan perlombaan meski dalam format yang lebih sederhana. Langkah itu diambil agar tradisi pelayaran sandeq sebagai warisan budaya masyarakat Mandar tetap terpelihara.
Selama ini, Sandeq Silumba tidak hanya menjadi ajang perlombaan perahu layar tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari pelestarian budaya maritim Sulawesi Barat. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi daya tarik wisata yang setiap tahun melibatkan masyarakat pesisir dan komunitas passandeq dari berbagai daerah.





