Belajar dari Jakarta, Sulbar Siapkan Strategi Perkuat Rantai Pasok Pangan dan Kendalikan Inflasi
Jakarta – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mulai memperkuat fondasi sistem pangan daerah dengan mempelajari tata kelola distribusi pangan yang diterapkan di DKI Jakarta.
Melalui Dinas Pangan Daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Sulbar melakukan koordinasi ke PT Food Station Tjipinang Jaya (Perseroda) dan Perumda Pasar Jaya Kramat Jati untuk mengkaji model rantai pasok yang dinilai efektif menjaga ketersediaan pangan dan stabilitas harga.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus menekan risiko inflasi yang kerap dipengaruhi gangguan distribusi, keterbatasan pasokan, serta fluktuasi harga komoditas strategis. Dalam konteks ekonomi daerah, penguatan rantai pasok tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat dan kesejahteraan petani.
Kunjungan yang berlangsung pada Rabu (22/7) itu melibatkan sejumlah perangkat daerah dan dipimpin TPID Provinsi Sulawesi Barat. Kepala Dinas Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Suyuti Marzuki, turut mengikuti rangkaian koordinasi guna menyerap berbagai praktik terbaik yang dapat diterapkan di Sulbar.
Di PT Food Station Tjipinang Jaya, rombongan mempelajari sistem pengelolaan komoditas pangan strategis, terutama beras. Pengelolaan rantai pasok berlangsung secara terintegrasi, mulai dari pengadaan, pengawasan mutu, manajemen stok, hingga distribusi kepada masyarakat. Sistem tersebut terbukti mampu menjaga kesinambungan pasokan dan meredam gejolak harga yang berpotensi memicu inflasi.
Selain aspek distribusi, rombongan juga mendalami pentingnya ketersediaan data stok dan harga secara real time sebagai dasar pengambilan kebijakan. Koordinasi antarlembaga serta kemitraan dengan petani, pelaku usaha, dan distributor turut menjadi faktor penting dalam membangun sistem pangan yang adaptif terhadap perubahan kondisi pasar maupun tantangan produksi.
Kunjungan kemudian berlanjut ke Perumda Pasar Jaya Kramat Jati, salah satu pusat distribusi hortikultura terbesar di Indonesia. Di lokasi tersebut, peserta melihat langsung arus masuk komoditas dari berbagai daerah, mekanisme distribusi ke pasar-pasar induk dan pasar tradisional, pengendalian mutu produk, hingga proses pembentukan harga yang berlangsung setiap hari berdasarkan keseimbangan pasokan dan permintaan.
Kepala Dinas Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Suyuti Marzuki, menilai pengalaman yang diperoleh selama kunjungan menjadi referensi penting dalam memperkuat sistem distribusi pangan daerah.
“Sulawesi Barat memiliki potensi pertanian dan hortikultura yang besar. Tantangan kita bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan hasil produksi dapat terdistribusi dengan baik, memiliki akses pasar yang luas, serta mampu menjaga stabilitas harga di tingkat petani maupun konsumen. Karena itu, penguatan tata kelola distribusi, pemanfaatan data, dan kemitraan lintas sektor harus terus ditingkatkan,” ujar Suyuti Marzuki.
Menurut Suyuti, persoalan pangan saat ini tidak lagi semata-mata bertumpu pada produksi. Banyak daerah memiliki kapasitas produksi yang memadai, namun menghadapi hambatan distribusi yang berdampak pada tingginya disparitas harga. Karena itu, pembenahan rantai pasok menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga keseimbangan pasar.
Hasil koordinasi tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan penyusunan langkah strategis Dinas Pangan Sulbar. Sejumlah agenda yang menjadi perhatian antara lain penguatan sistem informasi pangan daerah, optimalisasi pemantauan stok dan harga, peningkatan efektivitas Gerakan Pangan Murah, serta pengembangan kerja sama antardaerah guna memperluas jaringan distribusi komoditas pangan.
Kunjungan itu juga sejalan dengan arah pembangunan daerah yang tertuang dalam program Panca Daya Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka. Penguatan ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas karena memiliki keterkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan pengendalian inflasi.
Melalui pembelajaran dari Jakarta, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat berharap mampu membangun sistem pangan yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan. Dengan rantai pasok yang kuat, pemerintah tidak hanya dapat menjaga keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat, tetapi juga memperluas akses pasar bagi petani dan memperkuat daya tahan ekonomi daerah terhadap berbagai gejolak pasar.




