Tak Cukup Punya Tanah Jarang, SDK Tantang Kampus Kuasai Teknologi

waktu baca 3 menit

Makassar — Sulawesi Barat punya deposit tanah jarang. Namun, kekayaan mineral itu belum otomatis menjadi kekuatan ekonomi.

Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka justru melihat persoalan lebih besar. Indonesia harus menguasai teknologi pengolahan jika ingin menjadikan tanah jarang sebagai kekuatan strategis.

Pesan itu ia sampaikan saat memberikan orasi ilmiah pada wisuda Universitas Negeri Makassar (UNM), Kamis, 20 Agustus 2026.

Suhardi Duka mengaitkan perebutan mineral kritis dengan perubahan peta kekuatan dunia. Persaingan antarnegara tidak lagi hanya berlangsung melalui kekuatan militer. Penguasaan sumber daya dan teknologi ikut menentukan posisi sebuah negara.

“Secara global kita melihat bagaimana geopolitik mengarung-mengarungi antara satu kekuatan dengan kekuatan yang lain. Akibatnya juga terjadi perang, baik antara Ukraina dengan Rusia, Israel dengan Palestina dan beberapa negara Arab lainnya, maupun Amerika dengan Iran,” ujar Suhardi Duka.

Menurut dia, gejolak geopolitik ikut menekan ekonomi global. Indonesia karena itu perlu mengubah cara melihat kekayaan alam. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh berhenti pada angka makro jika manfaatnya tidak menyebar kepada masyarakat.

“Pertumbuhan ekonomi itu tidak semuanya bisa dinikmati oleh masyarakat kita. Justru angka kemiskinan tetap ada di tengah-tengah kita. Pertumbuhan ekonomi itu hanya dinikmati oleh segelintir orang, akhirnya yang kaya semakin kaya, kemudian yang miskin tetap terabaikan,” katanya.

Suhardi Duka mendorong pengelolaan sumber daya alam kembali pada semangat Pasal 33 UUD 1945. Kekayaan alam, kata dia, harus menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas, bukan sekadar penerimaan bagi negara.

Ia juga menyoroti praktik under-invoicing dan underpricing yang berpotensi memangkas nilai ekonomi sumber daya alam.

Namun, perhatian Suhardi Duka paling besar tertuju pada mineral kritis. Ia menyebut rare earth elements atau unsur tanah jarang sebagai salah satu komoditas yang kini ikut menentukan persaingan teknologi dan geopolitik dunia.

“Yang menjadi rebutan dunia adalah yang dikenal dengan mineral kritis, yaitu rare earth atau biasa disebut tanah jarang,” pungkas Suhardi Duka.

Sulawesi Barat, kata dia, memiliki potensi besar untuk masuk dalam peta tersebut. Hasil penelitian yang ia sebut menunjukkan adanya deposit tanah jarang dengan kualitas yang baik.

“Sesungguhnya Sulawesi Barat adalah masa depan Indonesia dan masa depan dunia. Siapa yang menguasai tanah jarang atau rare earth, itulah yang memainkan geopolitik dunia,” tegasnya.

Tetapi deposit saja tidak cukup. China menjadi contoh negara yang tidak hanya memiliki cadangan tanah jarang, tetapi juga menguasai teknologi pengolahannya.

Indonesia menghadapi tantangan berbeda. Jika hanya menjual bahan mentah, nilai tambah terbesar akan tetap berada pada negara yang menguasai teknologi pemisahan dan pengolahan.

“Memiliki kandungan saja tidak cukup untuk bisa memainkan geopolitik. Kita juga harus menguasai teknologi,” beber Suhardi Duka.

Karena itu, ia meminta perguruan tinggi mengambil posisi lebih strategis. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan. Perguruan tinggi harus ikut menjawab persoalan teknologi yang menentukan masa depan sumber daya alam Indonesia.

“Pertanyaan bagaimana dengan penguasaan teknologi, saya kira geopolitik itu harus dijawab oleh perguruan tinggi karena memiliki kandungan saja tidak cukup,” tuturnya.

Bagi Sulbar, tantangan itu tidak berhenti pada tanah jarang. Provinsi tersebut juga memiliki sekitar 108 ribu hektare perkebunan sawit dan sekitar 140 ribu hektare kakao. Potensi padi, jagung, dan sektor pertanian lain juga masih besar.

Suhardi Duka menilai seluruh potensi itu membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menciptakan nilai tambah. Karena itu, generasi muda dan perguruan tinggi harus membaca perubahan global sekaligus menguasai teknologi.

Putar suara