Sulbar Bidik Status Sentra Kakao-Kopi Nasional, Disbun Siapkan Data Strategis untuk Tim Perencanaan Nasional
Mamuju – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mulai mematangkan langkah untuk memperkuat posisi daerah sebagai pusat pengembangan kakao dan kopi nasional.
Upaya tersebut ditandai dengan rapat persiapan kunjungan lapang Tim Badan Perencanaan Nasional yang akan menyusun rekomendasi Core Competence Wilayah (CCW) Sulawesi Barat.
Rapat berlangsung di Kantor Dinas Perkebunan Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Kamis (23/7). Forum tersebut menjadi tahapan penting untuk memastikan seluruh data, lokasi, dan informasi strategis siap saat tim perencana nasional melakukan peninjauan lapangan.
Kepala Dinas Perkebunan Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Muh. Faizal Thamrin, memimpin langsung rapat yang melibatkan Dinas Perkebunan Kabupaten Mamuju, jajaran bidang hilirisasi, bidang produksi tanaman perkebunan, serta sejumlah pejabat teknis lingkup Dinas Perkebunan Sulbar.
Penyusunan Core Competence Wilayah memiliki arti strategis dalam perencanaan pembangunan daerah. Dokumen tersebut menjadi dasar untuk mengidentifikasi sektor unggulan yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, sehingga arah pembangunan dapat lebih fokus, terukur, dan berorientasi pada peningkatan nilai tambah ekonomi.
Dalam konteks Sulawesi Barat, komoditas kakao dan kopi menjadi perhatian utama. Kedua komoditas tersebut selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat sekaligus memiliki peluang besar untuk berkembang melalui penguatan hilirisasi, peningkatan produktivitas, dan perluasan akses pasar.
Rapat membahas sejumlah agenda krusial, mulai dari penetapan lokasi kunjungan lapang, penyusunan agenda kegiatan, kesiapan data pendukung, hingga sinkronisasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten. Langkah tersebut bertujuan menghadirkan gambaran menyeluruh mengenai kondisi aktual sektor perkebunan Sulawesi Barat.
Kepala Dinas Perkebunan Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Muh. Faizal Thamrin, menilai kunjungan tim perencanaan nasional menjadi momentum penting untuk memperlihatkan potensi perkebunan Sulawesi Barat secara langsung.
“Sulawesi Barat memiliki potensi besar pada komoditas kakao dan kopi yang selama ini menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Melalui kunjungan Tim Badan Perencanaan Nasional, kita ingin menunjukkan kondisi riil di lapangan sekaligus menyampaikan potensi yang masih dapat dikembangkan. Karena itu, seluruh data, informasi, dan lokasi yang disiapkan harus akurat, terintegrasi, dan mencerminkan kebutuhan daerah agar rekomendasi yang dihasilkan benar-benar mampu mendukung arah pembangunan perkebunan Sulawesi Barat ke depan,” ujar Faizal.
Menurutnya, kualitas rekomendasi sangat bergantung pada kemampuan daerah menyajikan data yang valid dan kondisi lapangan yang representatif. Karena itu, sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, serta pemangku kepentingan sektor perkebunan menjadi faktor penting dalam proses tersebut.
Faizal berharap hasil kunjungan tidak berhenti pada penyusunan dokumen perencanaan, tetapi mampu menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan pembangunan jangka panjang.
“Kami berharap hasil kunjungan ini tidak hanya menghasilkan dokumen rekomendasi, tetapi juga menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang mampu memperkuat hilirisasi, meningkatkan produktivitas dan kualitas komoditas, memperluas akses pasar, serta menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi petani. Dengan demikian, sektor perkebunan dapat semakin berdaya saing dan memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat secara berkelanjutan,” tutupnya.
Secara makro, penyusunan Core Competence Wilayah merupakan instrumen penting untuk mendorong transformasi ekonomi daerah. Melalui pendekatan tersebut, pemerintah dapat mengarahkan investasi, memperkuat rantai nilai komoditas unggulan, serta menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis potensi lokal.
Langkah Dinas Perkebunan Sulawesi Barat ini juga sejalan dengan agenda pembangunan daerah dalam kerangka Panca Daya Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan.
Dengan persiapan yang semakin matang, Sulawesi Barat berupaya memastikan kunjungan Tim Badan Perencanaan Nasional menghasilkan rekomendasi yang aplikatif. Target akhirnya bukan hanya memperkuat posisi daerah sebagai sentra kakao dan kopi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani serta memperluas kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian regional.



