SDK dan Doa untuk Salim S. Mengga di Maulid Salabose
Majene — Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Salabose, Majene, menjadi ruang mengenang almarhum Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Salim S. Mengga.
Gubernur Sulbar, Suhardi Duka mengajak jamaah mengirimkan Al-Fatihah untuk sosok yang baru saja kehilangan posisi politik, sekaligus mitra pemerintahannya karena wafat.
Suhardi Duka atau SDK menghadiri Maulid Nabi yang digelar Keluarga Besar Rumpun Masyarakat Poralle Salabose, Selasa (25/8). Acara berlangsung pada pelataran Masjid Kuno Syech Abdul Mannan Salabose, Kecamatan Banggae, Majene.
Sebelum berbicara soal tradisi, SDK mengajak jamaah mendoakan Salim S. Mengga.
“Saya kemarin bersama-sama dengan almarhum Pak Wakil Gubernur Jenderal Salim S. Mengga. Oleh itu, saya ajak kita semua sebagai penghormatan kepada almarhum. Mari kita kirimkan Al-Fatihah untuk beliau,” ujar SDK.
Jamaah kemudian membaca Surah Al-Fatihah untuk almarhum. SDK berharap tahun depan ia kembali hadir bersama wakil gubernur yang akan mendampinginya.
“Insyaallah tahun depan saya akan datang dengan Wakil Gubernur juga, kalau masih panjang umur,” katanya.
Salabose Sebagai Titik Awal
SDK lalu membawa pembicaraan pada posisi Salabose dalam tradisi masyarakat Mandar. Ia menyebut kawasan itu sebagai titik awal tradisi Maulid dalam kultur Mandar.
“Salahbose ini adalah titik nol dari wilayah Mandar. Kenapa titik nol? Karena tidak ada gerakan maulid sebelum Salabose bermaulid. Oleh itu, tanah ini adalah tanah yang diberkati,” ucap SDK.
Menurut dia, penghormatan terhadap Maulid Salabose telah tumbuh sebagai etika sosial masyarakat Mandar. Sejumlah wilayah bahkan menunggu pelaksanaan Maulid Salabose sebelum menggelar tradisi serupa.
“Tidak ada instruksi Gubernur yang melarang maulid sebelum Salabose maulid. Tapi seluruh masyarakat Mandar menghargai. Tunggu dulu, jangan dulu maulid. Harus maulid dulu di Salabose, baru masjid yang lain,” jelasnya.
Ia mencontohkan Masjid Lambanan, Polewali Mandar, yang baru menggelar Maulid setelah Salabose.
“Masjid di Lambanan nanti tanggal 26 baru maulid. Salabose dulu, baru Lambanan. Ini adalah etika. Ini adalah ilmu yang sangat tinggi bagi kita masyarakat Mandar,” tutur SDK.
Tradisi itu, menurut SDK, bukan sekadar rangkaian acara keagamaan. Ada nilai penghormatan, keteraturan sosial, dan penghargaan terhadap warisan leluhur.
SDK bahkan mengaitkan tradisi tersebut dengan pengalaman pribadinya. Saat masih mahasiswa, ia pernah hendak berangkat ke Makassar menggunakan sepeda motor. Orang tuanya meminta ia menunggu hingga Maulid selesai.
“Jadi, saya berangkat sekitar jam 11, selesai maulid di masjid, baru saya berangkat. Alhamdulillah saya selamat sampai Makassar. Teman saya yang tidak ikut maulid berangkat sebelum maulid, mengalami kecelakaan,” kenangnya.
Ia juga mengaku pernah meninggalkan kesibukan Jakarta untuk pulang ke Sulbar demi menghadiri Maulid.
Agama dan Budaya Tak Harus Berseberangan
Bagi SDK, tradisi Maulid Salabose menunjukkan bahwa agama dan budaya tidak harus saling berhadapan. Keduanya justru dapat memperkuat akar kehidupan masyarakat.
“Agama dengan budaya itu saling melengkapi dan saling menguatkan. Agama akan lebih kuat dan mengakar apabila ditopang oleh budaya. Karena budaya lahir dari kebiasaan dan dari para leluhur kita,” ujar SDK.
Karena itu, ia meminta tradisi yang menyertai Maulid Salabose tetap terjaga. Rangkaian budaya tersebut, menurut dia, merupakan kekayaan Sulbar yang memiliki nilai lebih dari sekadar pertunjukan.
SDK juga memberi sinyal dukungan anggaran untuk penyelenggaraan Maulid Salabose tahun depan.
“Ini tanda, Pak Kadis, bahwa untuk tahun depan Allah kasihkan anggaran untuk maulid di sini,” katanya.
Ia menegaskan pemerintah provinsi dan kabupaten akan terus mendorong pembangunan sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.
Namun, pesan utama SDK dari Salabose bukan sekadar soal anggaran. Ia ingin tradisi tetap hidup karena menjadi salah satu penanda identitas masyarakat Mandar.
(Rls)


