Lewat Mandarpreneur Ecosystem, KPw BI Sulbar Buka Akses UMKM ke Pasar dan Modal
Mamuju — Persoalan UMKM Sulawesi Barat bukan semata kemampuan menghasilkan produk. Akses pasar, legalitas usaha, pembiayaan, dan kemampuan masuk ekosistem digital masih menjadi bagian penting agar usaha kecil mampu naik kelas.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulawesi Barat mencoba menjawab persoalan tersebut melalui Mandarpreneur Ecosystem. Program ini merupakan sebuah kerangka pengembangan UMKM yang menghubungkan penguatan kapasitas usaha dengan akses pasar dan pembiayaan.
Deputi Kepala Perwakilan BI Sulbar, Arifky Adhitya menjelaskan, kerangka Mandarpreneur Ecosystem terbagi dalam tiga program. Mandarpreneur Tangguh menyasar penguatan legalitas, kelembagaan, dan kesiapan dasar usaha. Mandarpreneur Digdaya mendorong produktivitas dan digitalisasi melalui pelatihan serta pendampingan.
“Sementara Mandarpreneur BerAKSI untuk memperluas akses pembiayaan dan pasar melalui business matching, Championship AKSI, serta kolaborasi perbankan,” ujar Arifky dalam Sipadaka Media, siang tadi.
Pendekatan tersebut akan berlangsung melalui Mandarpreneur Fair 2026 pada 24–26 September di Maleo Town Square, Mamuju. Upaya penguatan tersebut berlangsung melalui sinergi Pemprov Sulbar dan mitra strategis lain.
Mandarpreneur Ecosystem tidak hanya menghadirkan pameran produk. BI menghubungkan pelaku UMKM dengan layanan legalitas, pembiayaan, lokapasar, pembeli, dan mitra usaha.
Rangkaian kegiatan mencakup promosi produk UMKM, promosi kopi lokal, penjualan langsung melalui live selling, pendampingan masuk lokapasar, serta layanan legalitas dan pembiayaan.
BI juga membawa sejumlah isu yang langsung berkaitan dengan pengembangan usaha. Talkshow membahas UMKM hijau, legalitas dan standardisasi, pembiayaan produktif, serta pengembangan industri kopi dan wastra.
Pengembangan talenta lokal turut masuk agenda melalui kompetisi desain modest fashion dan wastra. Program ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas desainer daerah sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.
Target transaksi juga menjadi bagian penting dalam agenda tersebut. Melalui business matching, Mandarpreneur Fair 2026 menargetkan outcome pembiayaan dan perluasan keuangan sosial syariah sebesar Rp555 juta serta kerja sama antardaerah senilai Rp3,8 miliar.
“Fasilitasi tersebut diarahkan untuk mempertemukan UMKM dengan lembaga keuangan, pembeli, mitra usaha, dan pemerintah dari berbagai wilayah guna menjajaki akses permodalan, kerja sama perdagangan, investasi, serta penguatan rantai pasok,” ungkapnya.
Tema “Malaqbi Berkarya: Tumbuh, Terhubung, Berdaya” menjadi payung Mandarpreneur Fair 2026. Namun, substansi program bertumpu pada upaya membuat UMKM tidak berhenti pada kemampuan memproduksi dan menjual barang.
KPwBI Sulbar bersama Pemprov Sulbar dan mitra strategis juga akan memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga stabilitas harga, memperkuat intermediasi perbankan, serta memperluas akses pasar dan pembiayaan.
“Malui sinergi ini, pengembangan UMKM diharapkan semakin terhubung dengan peluang pasar dan pembiayaan, sehingga mendukung peningkatan skala usaha dan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Arifky.



