Seabad Injil di Kalumpang, Gibran Bicara Iman dan Identitas

waktu baca 3 menit

Mamuju – Satu abad perjalanan Injil Masuk Tanah Kalumpang (IMTK) menjadi momentum mempertegas identitas masyarakat Kalumpang.

Bukan hanya tentang perjalanan iman, tetapi juga menjaga budaya leluhur dan kelestarian alam. Pesan itu mengemuka saat Wakil Presiden Gibran Rakabuming menghadiri perayaan 100 Tahun IMTK 2026 di Tamalea, Desa Bonehau, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Senin (2/11).

Kehadiran Gibran mendapat sambutan hangat masyarakat. Para pendeta, tokoh masyarakat, dan warga dari berbagai wilayah Tanah Kalumpang turut menghadiri perayaan tersebut.

Suasana semakin akrab ketika Gibran membuka sambutannya menggunakan bahasa lokal Kalumpang. Sapaan itu langsung mendapat tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Perayaan yang diselenggarakan Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB) tersebut menandai perjalanan Injil sejak 1926. Momentum ini sekaligus mengingatkan pentingnya merawat kerukunan, tradisi, dan lingkungan.

Dalam sambutannya, Gibran memberikan apresiasi kepada para pendeta dan masyarakat Kalumpang. Mereka dinilai mampu menjaga keteguhan iman di tengah perubahan zaman.

“Banyak hal yang bisa berubah, tapi saya mengapresiasi bagaimana para pendeta, warga Kalumpang menjaga agar terang dari 100 tahun lalu tetap menyala di masa kini. Menjaga agar keteguhan dari 100 tahun lalu tetap mengakar kuat. Menjaga agar keyakinan dari 100 tahun lalu tetap lestari,” kata Gibran.

Namun, perhatian Gibran tidak berhenti pada perjalanan keagamaan. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga warisan budaya dan alam.

Menurutnya, tradisi masyarakat menyimpan nilai kehidupan dan kearifan leluhur. Karena itu, generasi sekarang memiliki tanggung jawab meneruskan warisan tersebut.

“Karena di balik setiap tradisi dan adat istiadat, tersimpan cerita tentang kehidupan, keimanan, penjagaan alam dari para leluhur kita. Tanah Kalumpang ini menyimpan jejak peradaban dari para pendahulu, menjadi tugas kita bersama untuk merawat dan melestarikannya,” ucapnya.

Gibran secara khusus mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan budaya lokal. Ia mencontohkan kain tenun Sekomandi dan bahasa Kalumpang sebagai identitas yang harus tetap hidup.

“Jangan sampai anak-anak muda mengenal kain Sekomandi hanya dari foto, tanpa pernah memiliki kebanggaan menggunakannya. Mengetahui bahasa Kalumpang hanya dari catatan, tanpa pernah menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Gibran.

Selain budaya, Gibran menekankan pentingnya merawat persatuan. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan.

“Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling curiga. Justru di tengah perbedaan itu kedewasaan kita diuji,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahaya kabar bohong dan ujaran kebencian. Menurutnya, masyarakat harus menjaga persaudaraan yang telah terbangun lintas generasi.

“Jangan biarkan satu kabar bohong atau satu ujaran kebencian meretakkan rumah persaudaraan yang telah dibangun oleh para leluhur kita,” pesan Wapres.

Gibran berharap perayaan satu abad IMTK menjadi titik awal penguatan nilai keimanan, kebudayaan, dan kepedulian lingkungan. Ia juga mengajak keluarga besar GKSB menyambut abad berikutnya dengan semangat kebersamaan.

Rangkaian kegiatan berlanjut dengan penandatanganan prasasti Monumen 1 Abad Injil Masuk Tanah Kalumpang. Gibran kemudian melakukan penanaman bibit pohon mangga sebagai simbol kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.