DKPPKB Sulbar Perkuat Deteksi Dini Kusta, Fokus Layanan Primer Berbasis Wilayah
Mamuju – DKPPKB Sulbar memperkuat pengendalian penyakit kusta melalui deteksi dini, pengobatan tuntas, dan edukasi untuk menekan stigma.
Upaya ini menitikberatkan penguatan pelayanan kesehatan primer berbasis wilayah. Data Sistem Informasi Penyakit Kusta (SIPK) tahun 2025 mencatat prevalensi kusta Sulbar sebesar 1,53 per 10.000 penduduk.
Kabupaten Polewali Mandar menjadi wilayah dengan prevalensi tertinggi 2,36, menyusul Majene 2,06, dan Pasangkayu 1,58. Sementara prevalensi terendah tercatat pada Mamasa 0,12, Mamuju 0,80 dan Mamuju Tengah 1,08.
Kepala DKPPKB Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim menyampaikan, kasus baru masih muncul setiap triwulan. Kemunculannya bersamaan dengan pasien yang masih menjalani pengobatan, serta pasien sembuh atau RFT. Ia menegaskan kusta dapat sembuh jika terdeteksi sejak dini dan pengobatan hingga sampai tuntas.
“Kusta bukan penyakit kutukan dan dapat disembuhkan jika terdeteksi sejak dini serta diobati secara tuntas,” kata dr. Nursyamsi Rahim, Selasa (27/1).
Ia menambahkan, layanan pengobatan kusta tersedia gratis pada fasilitas kesehatan pemerintah hingga tingkat puskesmas. Selain pengobatan, DKPPKB Sulbar terus memperkuat edukasi masyarakat untuk mengurangi stigma. Targetnya menekan kasus sekaligus mencegah diskriminasi terhadap penderita.






