Gubernur Sulbar Pangkas Harga Beras dan Telur hingga 30 Persen di Pasar Murah Mamuju
Mamuju – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Pemprov Sulbar) memanaskan mesin pengendalian harga selama Ramadan dan menjelang Lebaran.
Usai meninjau infrastruktur pascapreservasi jalan dalam Kota Mamuju di kawasan depan Anjungan Pantai Manakarra, Gubernur Suhardi Duka langsung melanjutkan agenda dengan memantau pelaksanaan pasar murah di depan Kantor Pos Mamuju, Jalan Yos Sudarso, Selasa, 3 Maret 2026.
Suhardi Duka hadir bersama Sekda Junda Maulana, Wakil Ketua DPRD Sulbar Suraidah Suhardi, Bupati Mamuju Sutinah Suhardi, Wakil Bupati Mamuju Yuli Permana, unsur Forkopimda, serta kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemprov Sulbar.
Warga menyambut kedatangan rombongan dengan antusias. Sejumlah warga tampak memadati lokasi untuk membeli kebutuhan pokok. Riuh suasana meningkat saat masyarakat mengetahui Pemprov Sulbar memangkas harga sejumlah komoditas pangan, termasuk beras dan telur, dengan potongan mencapai 30 persen.
Di lokasi, Suhardi Duka menegaskan pasar murah menjadi instrumen pemerintah daerah untuk meredam gejolak harga. Langkah itu sekaligus menahan laju inflasi saat permintaan pangan biasanya meningkat pada Ramadan.
“Hari ini kita mengunjungi pasar murah. Ini adalah upaya pemerintah untuk menjaga inflasi sekaligus memudahkan masyarakat mendapatkan bahan pangan selama Ramadan,” ujar Suhardi Duka.
Pemprov Sulbar menggelontorkan subsidi agar harga jual kebutuhan pokok turun dan lebih mudah dijangkau masyarakat. Skema ini menekan selisih harga yang selama ini menjadi beban rumah tangga, terutama saat daya beli tertekan.
“Harga yang sebelumnya Rp60 ribu, kita jual sekitar Rp50 ribu bahkan di bawahnya. Beberapa komoditas kita turunkan hingga 20 sampai 30 persen untuk meringankan beban masyarakat,” jelasnya.
Program pasar murah ini ditargetkan menjaga daya beli masyarakat, menahan kenaikan harga bahan pokok, serta memastikan pasokan tetap tersedia dan terjangkau selama Ramadan 1447 Hijriah. Pemerintah daerah juga mengandalkan kegiatan serupa sebagai bantalan sosial-ekonomi agar lonjakan kebutuhan tidak berubah menjadi lonjakan harga





