IGD Kerap Disalahgunakan, RSUD Sulbar Edukasi Publik agar Tak Salah Akses Layanan
Mamuju – RSUD Provinsi Sulawesi Barat menyoroti masih maraknya penggunaan Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk kasus non-darurat. Kondisi ini berpotensi memicu penumpukan pasien dan menghambat penanganan kasus kritis.
Melalui Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS), RSUD Sulbar menggelar edukasi langsung kepada pengunjung di ruang tunggu rekam medis, Rabu (1/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan dr. Satrianti sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, dr. Satrianti menegaskan fungsi utama IGD hanya untuk kondisi darurat yang mengancam nyawa dan membutuhkan penanganan cepat.
“IGD berfungsi memberikan penanganan cepat pada kondisi yang mengancam nyawa, menyelamatkan nyawa pasien, mencegah kecacatan, serta menstabilkan kondisi pasien sebelum mendapatkan penanganan lanjutan,” terangnya.
Ia menjelaskan, sejumlah kondisi yang wajib mendapat layanan IGD antara lain nyeri dada hebat, sesak napas berat, kecelakaan, kehilangan kesadaran, kejang, hingga perdarahan hebat. Kasus-kasus tersebut memerlukan respons medis segera.
Sebaliknya, masyarakat diminta tidak menggunakan IGD untuk keluhan ringan seperti batuk pilek, demam ringan, sakit kepala biasa, atau kontrol penyakit kronis. Untuk kondisi tersebut, warga sebaiknya memanfaatkan layanan puskesmas atau poliklinik.
Edukasi juga menekankan sistem triase di IGD yang membagi pasien berdasarkan tingkat kegawatan. Kategori merah menjadi prioritas utama karena mengancam nyawa, disusul kategori kuning untuk kondisi serius, serta kategori hijau untuk keluhan ringan.
RSUD Sulbar mengingatkan, penggunaan IGD yang tidak tepat dapat memicu overcrowded atau penumpukan pasien. Dampaknya, penanganan pasien kritis bisa melambat dan risiko keselamatan meningkat, termasuk beban kerja tenaga kesehatan yang kian berat.
Direktur RSUD Sulbar, dr. Musadri Amir Abdullah, menegaskan edukasi ini menjadi langkah strategis untuk meluruskan pemahaman masyarakat.
“Kami berharap melalui edukasi ini, masyarakat dapat lebih bijak dalam memanfaatkan layanan kesehatan, khususnya IGD, sehingga pelayanan kepada pasien yang benar-benar dalam kondisi darurat dapat lebih optimal,” ujarnya.
RSUD Sulbar pun mengimbau masyarakat agar lebih tepat memilih layanan kesehatan. IGD hanya untuk kondisi darurat, sementara keluhan ringan sebaiknya ditangani fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama.





