Pimpinan DPRD Sulbar Sebut Keberagaman Jadi Kekuatan Utama Menuju Indonesia Emas
Majene – Wakil Ketua DPRD Sulawesi Barat, St. Suraidah Suhardi, menegaskan keberagaman menjadi fondasi penting dalam menjaga persatuan bangsa sekaligus modal utama menuju Indonesia Emas.
Penegasan itu ia sampaikan saat menghadiri Dialog Kebangsaan di Auditorium TIPD Lantai 5 STAIN Majene, Kamis (7/5). Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Densus 88 Anti Teror Polri, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, dan STAIN Majene.
Forum itu mendorong penguatan wawasan kebangsaan, sekaligus menangkal ancaman intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme di kalangan generasi muda.
Dalam forum bertema “Merajut Kembali Benang Kebangsaan, Memetik Hikmah, Menjaga Harmoni dari Arus Perpecahan” itu, Suraidah menilai penguatan nilai toleransi dan persaudaraan harus terus diperkuat di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Suraidah sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, diskusi kebangsaan itu menjadi pemicu semangat untuk selalu menjaga keberagaman, baik di Indonesia secara umum maupun di Sulawesi Barat secara khusus.
“Karena kita tahu, dengan keberagaman maka kita menjadi utuh. Bukan keseragaman, tetapi keberagamanlah yang mengikat kita dan memberikan warna untuk Indonesia yang lebih baik,” kata Suraidah.
Ia menilai ancaman perpecahan sosial tidak bisa dianggap remeh. Karena itu, seluruh elemen masyarakat perlu memperkuat harmoni sosial dan menjaga ruang kebangsaan tetap sehat dari pengaruh paham ekstrem.
Menurutnya, keberagaman suku, budaya, dan agama bukan titik lemah bangsa. Justru kondisi itu menjadi kekuatan besar untuk membangun Indonesia yang damai, maju, dan berdaya saing.
Dialog Kebangsaan tersebut juga sejalan dengan misi pembangunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka, terutama dalam mencetak sumber daya manusia unggul dan berkarakter.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan itu, antara lain Wakil Bupati Majene Andi Ritamariani, Kepala Badan Kesbangpol Sulbar Muh. Darwis, Ketua STAIN Majene Prof. Wasilah Sahabuddin, Dosen STAIN Majene Prof. Muliadi, serta peneliti jaringan terorisme Rida Hesti Ratnasari. Forum itu juga melibatkan unsur akademisi, mahasiswa, dan pemerintah daerah.





