Surplus 75 Ribu Ton Beras, Sulbar Siap Pasok Kaltim dan Dorong Poros Pangan Antarwilayah
Sulbar – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat berencana membuka pasokan beras ke Kalimantan Timur yang masih defisit setelah mampu memproduksi hingga 75 ribu ton per tahun.
Kesepakatan awal ini mengemuka dalam pertemuan Gubernur Sulbar Suhardi Duka dan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud di Rumah Jabatan Gubernur Sulbar, Sabtu (28/3).
Pertemuan tidak sekadar silaturahmi, tetapi mengarah pada pembentukan rantai pasok antarprovinsi yang lebih terstruktur.
Suhardi Duka menilai selama ini distribusi beras berjalan tanpa kendali pemerintah, sehingga potensi nilai tambah belum optimal. Ia mendorong pola baru berbasis kerja sama langsung antar pemerintah dan BUMD.
“Salah satu yang menjadi produksi Sulawesi Barat itu adalah pangan, kami surplus di pangan kurang lebih 75.000 ton. Ini banyak lari ke Kalimantan,” kata Suhardi.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan distribusi secara sistematis agar efisiensi dan manfaat ekonomi bisa dirasakan kedua daerah.
“Jika ini bisa di manage dengan baik, antara g to g (Government to Government, red) kemudian mungkin bisa juga melewat BUMD masing-masing. Kemungkinan besar ada manfaat dan lebih efisien dengan efektif hubungan Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat,” ucapnya.
Selain beras, Sulbar juga menyiapkan ekspansi sektor peternakan sebagai sumber pasokan baru. Dalam waktu dekat, komoditas kambing diproyeksikan mulai surplus dan siap masuk skema kerja sama.
“Begitu juga 1 atau 2 tahun ke depan mungkin surplus di peternakan utamanya kambing,” kata Suhardi.
Suhardi menegaskan kerja sama ini tidak berorientasi pada untung-rugi semata, tetapi pada penguatan konektivitas ekonomi kawasan.
“Kami sepakat tadi untuk saling bersinergi. Apa yang bisa kita ambil dari Kalimantan. Apa yang bisa kita bawa dari Kalimantan. Tanpa memperhitungkan defisit plus yang penting saling bermanfaat,” imbuhnya.
Mitra Strategis Tutup Defisit
Di sisi lain, Rudy Mas’ud melihat Sulbar sebagai mitra strategis untuk menutup defisit pangan di Kaltim yang masih mencapai lebih dari separuh kebutuhan.
“Sulawesi Barat surplus daripada beras kurang lebih sekitar 75.000 ton setiap tahunan dan Kalimantan timur hari ini kita masih minus,” ungkap Rudy.
Ia menilai kedekatan geografis menjadi keunggulan yang belum maksimal. Karena itu, percepatan distribusi menjadi agenda utama.
“Jarak dari Sulawesi Barat ke Kalimantan timur kita hanya dipisahkan oleh selat saja,” ucapnya.
Untuk memangkas waktu logistik, kedua daerah membahas pengadaan kapal cepat sebagai tulang punggung distribusi.
“Kalau ke depan kita bisa mendapatkan kapal cepat yang kira kira speednya kurang lebih sekitar 25 sampai 30 knot. Mungkin untuk nyebrang ke Kalimantan timur hanya perlu waktu 4 atau 5 jam saja maksimum,” jelas Rudi.
Rudy juga membuka opsi subsidi bersama agar jalur distribusi ini berkelanjutan dan efisien.
“Bagaimana nanti kita mensubsidi agar kapal cepat ini untuk mobilisasi mulai dari manusia, barang dan jasa itu lebih cepat dan disingkat dari Kalimantan Timur mungkin bisa mengirim ke sini adalah untuk energi, mungkin lebih cepat. Kita membutuhkan disana bahan pangan mulai tadi disebutkan adalah beras termasuk kambing program beliau tadi,” tandasnya.
Kerja sama ini tidak berhenti pada beras. Kedua daerah juga menjajaki perdagangan sapi, ayam petelur, hingga material konstruksi. Kaltim berpeluang memasok energi, sementara Sulbar menguatkan peran sebagai penyuplai pangan.
Jika terealisasi, kolaborasi ini berpotensi membentuk poros ekonomi baru antarwilayah, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional dari kawasan timur Indonesia.


