Ray Akbar Ramadhan Sebut Pemblokiran ASN Sulbar Bukan Ketegasan, Tapi Cermin Kegamangan
Mamuju – Ketua Lingkar Literasi Intensif Mamuju, Ray Akbar Ramadhan, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan BKN memblokir layanan ASN Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat.
Ia menilai langkah tersebut tidak mencerminkan ketegasan, melainkan memperlihatkan problem dalam cara pengambilan keputusan.
Ray menyoroti kecenderungan kekuasaan yang justru menjauh dari fungsi utamanya sebagai pelindung. Menurut dia, kebijakan yang muncul tanpa pertimbangan matang berpotensi menekan, bukan menyelesaikan persoalan.
“Pemblokiran layanan ASN bukanlah tanda ketegasan, melainkan bayangan dari kegamangan yang diselubungi keputusan tanpa hikmah,” tegas Ray Akbar Ramadhan lewat rilisnya, petang tadi.
Ia melihat, arah kebijakan tersebut membuka celah ketidakpercayaan publik. Ketika hak-hak ASN terhambat, pemerintah dinilai gagal menjaga keseimbangan antara kewenangan dan tanggung jawab.
“Apakah engkau mengira bahwa kekuasaan adalah perisai dari pertanggungjawaban? Tidak. Ia justru adalah cahaya yang menyingkap siapa yang adil dan siapa yang bersembunyi dari keadilan,” bebernya.
Ray juga menekankan pentingnya kepekaan sosial dalam setiap keputusan publik. Kebijakan yang membebani tanpa dasar jelas hanya akan menambah tekanan di tengah masyarakat.
“Ketahuilah, kebijakan yang lahir tanpa kebijaksanaan adalah beban bagi rakyat, dan setiap beban yang dipaksakan tanpa nurani akan kembali menjadi pertanyaan yang menuntut jawaban, bukan di hadapan manusia saja, tetapi juga di hadapan Yang Maha Mengetahui segala isi hati,” ketus pemuda asal Mamuju itu.
Menurutnya, diamnya pihak terdampak tidak boleh dimaknai sebagai persetujuan. Ia menilai situasi tersebut justru mencerminkan kekecewaan yang terus terakumulasi.
“Maka, janganlah engkau bangga dengan keputusan yang membuat banyak orang terdiam, sebab diamnya mereka bukan tanda persetujuan, melainkan akumulasi dari kekecewaan yang menunggu waktu untuk bersuara,” kata Ray.
Ray mengingatkan bahwa kepemimpinan menuntut kehati-hatian dan empati. Seorang pemimpin harus mendengar sebelum memutuskan dan mempertimbangkan dampak sebelum menjalankan kebijakan.
“Jika engkau ingin dikenal sebagai pemimpin, maka dengarkan sebelum memutuskan, timbang sebelum menetapkan, dan rasakan sebelum memerintahkan. Karena sesungguhnya, keputusan tanpa hikmah hanyalah bayangan dari kekuasaan yang rapuh,” tandasnya.
Di akhir pernyataannya, Ray menyampaikan peringatan tegas terkait batas kesabaran masyarakat terhadap kebijakan yang dianggap tidak adil.
“Dan ketahuilah, kesabaran bukanlah kelemahan, dan ketenangan bukanlah ketakutan. Ada batas di mana diam berubah menjadi sikap, dan sikap menjelma menjadi perlawanan yang tak dapat dibendung. Jangan main-main dengan orang Mandar,” pungkas Ray.




