Cegah AIDS, TBC, dan Malaria, RSSH Sulbar Konsolidasikan Kekuatan Desa hingga Lintas Sektor di Pasangkayu

waktu baca 3 menit

Pasangkayu — Upaya eliminasi AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan Malaria di Sulawesi Barat membutuhkan dukungan yang melampaui sektor kesehatan.

Kesadaran itu mendorong Resilient and Sustainable Systems for Health (RSSH) Adinkes Provinsi Sulawesi Barat memperkuat kemitraan lintas sektor melalui Pertemuan Penguatan Kemitraan Pencegahan dan Pengendalian AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM) di Ruang Pola Kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Pasangkayu, Rabu (8/7/2026).

Forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, fasilitas layanan kesehatan, hingga unsur lintas sektor yang memiliki peran strategis dalam mendukung pengendalian penyakit menular.

Ketua Tim Kerja Promosi Kesehatan, Kesehatan Komunitas dan Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat yang juga Assistant Program Coordinator RSSH, Muh. Saleh, hadir mewakili DKPPKB Sulawesi Barat sekaligus memfasilitasi penguatan kemitraan antarsektor.

Kegiatan dibuka Kepala Dinas PMD Kabupaten Pasangkayu, I Nyoman Suandi. Hadir pula Kepala Bapperida Kabupaten Pasangkayu Kartini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pasangkayu drg. Rukman, para camat, kepala desa, perwakilan Puskesmas Pasangkayu I dan Bambalamotu, serta sejumlah mitra pembangunan.

Dalam sesi diskusi, Muh. Saleh menekankan bahwa tantangan pengendalian AIDS, TBC, dan Malaria semakin kompleks sehingga membutuhkan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan hingga tingkat desa. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga pada kekuatan koordinasi, edukasi masyarakat, dan pemberdayaan komunitas.

“Kolaborasi lintas sektor merupakan kunci untuk memperkuat sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan. Pemerintah desa, kecamatan, fasilitas pelayanan kesehatan, serta seluruh mitra pembangunan memiliki peran penting dalam meningkatkan penemuan kasus, keberhasilan pengobatan, edukasi masyarakat, dan pemberdayaan komunitas,” ucap Muh. Saleh.

Secara substansial, pertemuan tersebut menjadi bagian dari implementasi program RSSH yang berfokus pada penguatan sistem kesehatan melalui pembangunan kemitraan, peningkatan kapasitas pemerintah daerah, serta optimalisasi partisipasi masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria.

Para peserta membahas sejumlah isu strategis, antara lain penguatan koordinasi lintas sektor, optimalisasi peran pemerintah desa dalam mendukung program kesehatan, penguatan jejaring layanan kesehatan, serta penyusunan langkah kolaboratif yang dapat diterapkan secara konkret di Kabupaten Pasangkayu.

Pendekatan tersebut dinilai penting mengingat keberhasilan eliminasi penyakit menular sangat bergantung pada kemampuan daerah membangun sistem yang terintegrasi, mulai dari deteksi dini kasus, keberhasilan pengobatan, hingga penguatan kesadaran masyarakat.

Secara terpisah, Kepala DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, berharap forum tersebut menghasilkan komitmen yang lebih kuat dari seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat eliminasi TBC, menekan penyebaran HIV/AIDS, dan mengendalikan Malaria di Sulawesi Barat.

Ia menilai sinergi lintas sektor menjadi fondasi penting dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Langkah itu sekaligus mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat serta sejalan dengan visi pembangunan daerah, yakni mewujudkan Sulawesi Barat yang maju dan sejahtera.