DLHK Sulbar Cetak Generasi Tanggap Iklim Lewat Sekolah Lapang di Mamuju

waktu baca 3 menit

Mamuju — Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sulawesi Barat memperkuat edukasi perubahan iklim kepada generasi muda melalui program Sekolah Lapang Iklim 2026.

Kegiatan itu berlangsung di SMP-SMA IT Wildan Mamuju, 20–21 Mei 2026. Program ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas masyarakat menghadapi ancaman krisis iklim dan bencana lingkungan yang kian meningkat.

DLHK Sulbar menggandeng Yayasan Sulawesi Cipta Forum dalam pelaksanaan kegiatan yang didukung dana RBP REDD+ Output 2 tersebut. Kepala DLHK Sulbar, Zulkifli Manggazali, membuka kegiatan sekaligus menyematkan kartu peserta secara simbolis kepada perwakilan pelajar.

Dalam sambutannya, Zulkifli menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan. Akan tetapi, persoalan nyata yang sudah berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

“Peningkatan suhu bumi, cuaca ekstrem, hingga berbagai bencana lingkungan menjadi bukti bahwa upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim harus terus diperkuat,” tegas Zulkifli.

Ia menjelaskan, pemerintah terus mendorong berbagai kebijakan pengendalian perubahan iklim. Termasuk melalui Program Kampung Iklim (ProKlim). Program itu bertujuan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam meningkatkan ketahanan lingkungan sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.

Menurutnya, intensitas bencana yang terus muncul di berbagai wilayah Indonesia harus menjadi alarm bagi semua pihak untuk memperkuat kesiapsiagaan sejak dini.

“Setiap hari kita mendengar bahkan melihat langsung kejadian bencana alam di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari banjir, longsor, angin kencang, hujan ekstrem hingga gempa dan gunung meletus. Tentu kita memahami bahwa kondisi tersebut tidak terjadi begitu saja, tetapi ada faktor pemicu yang salah satunya dipengaruhi oleh perubahan iklim ekstrem,” ungkapnya.

DLHK Sulbar menilai edukasi berbasis praktik lapangan menjadi langkah strategis untuk membangun kesadaran lingkungan di kalangan pelajar. Karena itu, Sekolah Lapang Iklim tidak hanya menyajikan materi teoritis, tetapi juga praktik langsung terkait mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

“Melalui kegiatan ini peserta tidak hanya mendapatkan materi terkait perubahan cuaca dan iklim, tetapi juga pembelajaran tentang adaptasi perubahan iklim, pengelolaan sampah, praktik pemilahan sampah, hingga materi kebencanaan yang dibimbing langsung oleh para narasumber melalui praktik lapangan,” tambahnya.

Program Selaras Arah Pembangunan Daerah

Program tersebut juga selaras dengan arah pembangunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka yang menitikberatkan pembangunan berkelanjutan, penguatan ketahanan lingkungan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia yang adaptif terhadap risiko iklim dan kebencanaan.

Ketua Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah, Ustadz Amiruddin, menyebut Sekolah Lapang Iklim sebagai investasi jangka panjang dalam membangun generasi sadar lingkungan dan tanggap bencana.

“Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan biasa, tetapi menjadi upaya membangun generasi yang sadar iklim. Kami berharap peserta dapat belajar secara langsung, interaktif, dan praktis di lapangan,” ujarnya.

Kepala Bidang PSLB3 dan PPKL DLHK Sulbar, Alexander Bontong hadir memberikan materi pengenalan cuaca, iklim, serta praktik pemilahan sampah. Sementara Syukriah membawakan materi perubahan iklim dan kebencanaan melalui pendekatan praktik lapangan.