Kursi Wagub Sulbar di Simpang Jalan, NasDem Tetap Jagokan Fatmawati Meski Koalisi Punya Pilihan
Mamuju — Peta usulan kandidat Wakil Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) terbelah dua dalam tubuh partai Koalisi Sulbar Maju dan Sejahtera.
Gabungan partai pengusung telah mengunci dua nama. Syamsul Samad dari Demokrat dan Abdul Latif dari PKS. Keputusan itu lahir setelah NasDem meninggalkan forum pembahasan pada Jumat (21/8).
Namun, partai besutan Surya Paloh itu menolak arus yang sama. NasDem tetap mendorong Fatmawati Salim melalui jalur berbeda. Istri mendiang Salim S. Mengga itu diusul secara mandiri oleh partai politik tunggal.
Namun, NasDem tidak menarik diri dari koalisi. Partai berjargon Gerakan Restorasi itu hanya mengambil posisi berbeda. Tetap berada dalam koalisi, tetapi menolak mekanisme yang menghasilkan dua nama tersebut.
Ketua DPW NasDem Sulbar, Dirga Adhi Putra Singkarru menegaskan alasannya secara gamlang. Perbedaan pandangan dalam forum tidak menemukan titik temu. Berbagai aksi protes yang dilayangkan pun terabaikan.
“NasDem tetap bagian dari koalisi. Kami hanya tidak bersepakat dalam mekanisme pengusulan calon wakil gubernur,” kata Dirga dalam komprefensi pers, Minggu malam (23/8).
Hasil keputusan gabungan partai koalisi tidak menghentikan langkah politik NasDem. Dirga akan mengusulkan hasil rekomendasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) secara kelembagaan kepada Gubernur Sulbar.
Langkah partai berlambang rotasi biru dan siluet kuning itu berpijak pada Pasal 176 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016. Kandidat bisa diusulkan dari partai politik atau gabungan partai politik pengusung. NasDem memilih mengusulkan calon secara mandiri melalui jalur partai politik.
“Dalam waktu dekat ini Nasdem akan mengusulkan surat usulan kepada gubernur secara institusi partai politik,” ucap pria 39 tahun itu.
Bagi Dirga, keputusan NasDem mengusung kandidat lain merupakan bagian dari dinamika koalisi. Rekomendasi partai merupakan komitmen yang tak bisa ditawar. Kredibilitas partai dipertaruhkan ketika SK DPP telah terbit.
“Sebagai langkah partai politik dan sebagai bagian daripada koalisi, kami menjaga maruah partai, nama baik partai untuk menjadi bagian daripada koalisi untuk mengusung nama yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Pilkada tahun 2024,” ujarnya,” tegas Dirga.
Sikap ini membuat proses pengisian kursi yang ditinggalkan Salim S. Mengga semakin pelik. Jalur bercabang dan usulan yang lebih dari dua nama.
Sementara, arena pemilihan hanya dapat terbuka pada dua nama. DPRD Sulbar tidak dapat menentukan pilihan jika kandidat hanya satu, apalagi tiga nama.
NasDem menyerahkan keputusan politik berikutnya kepada gubernur. Namun partai itu tetap membawa kepentingannya sebagai bagian dari koalisi pengusung.
“Bagaimana nantinya tentunya akan ada pertimbangan khusus atau ketetapan khusus dari Bapak Gubernur,” tandas Dirga.
Langkah tersebut membuat bursa Wagub Sulbar memiliki tiga nama. Dua nama lahir dari keputusan forum gabungan partai. Satu nama lainnya datang dari NasDem.
Tiga Pilar Pilihan NasDem

NasDem tidak menempatkan Fatmawati sebagai figur yang muncul tiba-tiba. Rekomendasi itu bukan pula keputusan serampangan. Di baliknya terdapat kalkulasi politik yang disusun dari sejumlah pertimbangan.
Aspirasi masyarakat, rekam integritas Salim S. Mengga, serta konsistensi NasDem sejak Pilkada 2024 menjadi tiga pijakan utama. Ketiganya bertemu dalam satu pertimbangan politik.
Korwil NasDem Sulbar, Ratih Megasari Singkarru mengungkap, Fatmawati memiliki pengalaman panjang mendampingi Salim S. Mengga dalam perjalanan karir politik. Ia menyebut Fatmawati telah mendampingi Salim selama sekitar 20 tahun.
Perjalanan panjang itu, menurut Ratih, membuat Fatmawati memahami dunia politik dari dekat.
Termasuk ketika Salim menjabat sebagai Wakil Gubernur Sulbar selama sekitar satu setengah tahun terakhir masa hidupnya.
Legislator Senayan itu melihat pengalaman tersebut sebagai modal politik yang tidak dimiliki sembarang kandidat.
“Artinya, pengalaman yang didapati oleh Ibu Fatmawati itu adalah cerminan berpolitiknya Bapak Salim S. Mengga,” ujar Ratih.
Bagi legislator Komisi X DPR itu, yang diwariskan Salim. S Mengga bukan sekadar posisi politik. Ada nilai yang ingin mereka teruskan.
Ratih menyebut Salim dikenal memegang teguh keadilan dan kejujuran dalam berpolitik. Nilai itu, menurut dia, juga menjadi pertimbangan DPP saat memilih Fatmawati.
“Integritas tersebut juga dimiliki oleh Ibu Fatmawati. Sehingga saya meyakini, kami meyakini, partai NasDem meyaniki belia yang saya sangat cocok mendampingi bapak gubernur kita,” beber politisi 36 tahun itu.
Bagi Ratih Fatmawati bukan sekadar istri mantan Wakil Gubernur Sulbar. Ia dianggap memahami perjalanan politik Salim, sekaligus memiliki pandangan politik sendiri.
“Yang ingin saya katakan, Ibu Fatmawati bukan orang awam di dunia politik,” sebut Ratih.
Keyakinan itu kemudian bertemu dengan pertimbangan lain. NasDem mengklaim melihat respons masyarakat yang menghendaki Fatmawati mendampingi Suhardi Duka. Ratih menyebut dukungan tersebut muncul secara langsung maupun melalui media sosial.
“Kami juga melihat respon dan antusiasme masyarakat Sulawesi Barat yang menghendaki Ibu mendampingi gubernur kita,” katanya.
Namun, alasan terkuat NasDem justru kembali pada Pilkada 2024. Ratih mengingatkan bahwa NasDem sejak awal mendorong Salim sebagai pasangan Suhardi Duka.
Ketika itu, Partai Demokrat mengusung kandidat gubernur, sedangkan NasDem mendorong kadernya untuk posisi wakil gubernur. Mandat tersebut lahir langsung dari DPP NasDem.
Karena itu, NasDem melihat pengusulan Fatmawati sebagai kelanjutan dari garis politik yang telah mereka bangun sejak Pilkada 2024.
“Kami konsisten di jalur tersebut. Kami konsisten di koridor tersebut,” tegas Ratih.
Konsistensi itu pula yang menjadi dasar NasDem menilai Fatmawati layak meneruskan perjuangan Salim.
“Bahwa saat ini pun kami melihat, merasa dan bahwa Ibu merupakan orang yang sangat layak untuk melanjutkan perjuangan almarhum,” pungkasnya.


