Perpustakaan Keliling Jadi Magnet, Pelajar Mamuju Berburu Bacaan di Hari Anak Nasional

waktu baca 3 menit
Kepala Dispusip Mamuju Syarifuddin bersama Sekretaris Dispusip Mamuju Mahfud Affandy, mendampingi anak-anak membaca buku di lokasi layanan perpustakaan keliling, Kantor Bupati Mamuju.

Mamuju – Perayaan Hari Anak Nasional di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat mendadak menjadi panggung literasi, Senin (3/8).

Kehadiran perpustakaan keliling menarik pelajar untuk meninggalkan keramaian sejenak dan tenggelam dalam halaman-halaman buku.

Pelajar silih berganti mendatangi kendaraan layanan tersebut. Tanpa perlu aba-aba, halaman Kantor Bupati Mamuju seketika berubah menjadi ruang baca terbuka.

Mobil perpustakaan keliling milik Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Mamuju jadi magnet di lokasi acara. Pengunjungnya tidak hanya dari kalangan anak PAUD, tetapi juga siswa SD, SMP, hingga SMA sederajat.

Betapa tidak, Dispusip Mamuju menyediakan ratusan koleksi bacaan ramah anak yang menarik. Mulai dari buku bergambar, cerita anak, komik edukatif, novel, hingga bacaan pengetahuan umum.

Kepala Bidang Perpustakaan, Dispusip Mamuju, Muh. Sadad mendampingi pengunjung anak PAUD melihat buku bergambar di perpustakaan keliling.

Tidak heran, rak-rak buku ramai dikerumuni anak-anak yang sibuk memilih bacaan sesuai minat mereka. Beragam bacaan itu berpindah tangan, dibuka, dan dibaca dengan antusias. Bahkan, ada rela masuk ke dalam mobil untuk sekadar mencari buku kesukaannya.

Kehadiran layanan itu menjadi alternatif ruang belajar luar kelas yang menyenangkan. Upaya tersebut sekaligus membuat akses terhadap bahan bacaan menjadi lebih dekat dan mudah dijangkau.

Kepala Dispusip Mamuju, Syarifuddin, mengatakan kehadiran perpustakaan keliling merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memperluas akses bacaan dan membangun budaya literasi sejak usia dini.

“Kehadiran perpustakaan keliling bukan sekadar pelengkap acara, melainkan strategi kami untuk memperluas jangkauan bacaan berkualitas hingga ke ruang-ruang yang paling dekat dengan anak. Momentum peringatan Hari Anak Nasional ini menjadi kesempatan yang tepat untuk menumbuhkan budaya membaca sejak dini,” ujar Syarifuddin saat mendampingi pelajar membaca buku.

Suasana layanan perpustakaan keliling Dispusip Mamuju di lokasi perayaan Hari Anak Nasional di Kantor Bupati Mamuju.

Menurut Syarifuddin, peningkatan minat baca tidak cukup dilakukan melalui ruang kelas semata. Anak-anak perlu mendapat ruang belajar yang menyenangkan agar membaca tidak dianggap sebagai kewajiban, melainkan menjadi kebutuhan dan kebiasaan.

Karena itu, kata dia, layanan perpustakaan keliling terus diperkuat sebagai sarana yang mendekatkan buku kepada masyarakat.

“Selain menyediakan bahan bacaan, layanan perpustaakan keliling juga membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar, mengeksplorasi pengetahuan, dan memperluas wawasan,” terangnya.

Selama kegiatan berlangsung, para pelajar terlihat aktif membuka halaman demi halaman buku yang mereka pilih. Sebagian membaca secara mandiri, sementara yang lain berdiskusi dengan teman-temannya mengenai isi bacaan yang menarik perhatian mereka.

Respons positif juga datang dari para siswa. Rizki Jarug, siswa kelas V SD Inpres Karema, mengaku senang dapat mengunjungi perpustakaan keliling karena menyediakan banyak pilihan buku yang menarik.

“Saya suka karena bukunya banyak. Bisa baca banyak buku,” kata Rizki yang mengaku gemar membaca komik dan buku cerita anak.

Hal serupa disampaikan Arsyila, siswi kelas III SDN 2 Mamuju. Ia mengaku tertarik mendatangi perpustakaan keliling untuk mencari buku yang ingin dibacanya.

“Mau cari buku bergambar. Saya suka buku yang banyak gambarnya. Ceritanya binatang,” ucap Arsyila.

Selain pelajar, respons positif pun datang dari salah satu orang tua siswa, yakni Rismawaty. Menurut ibu dua anak itu, kehadiran perpustakaan keliling memberikan alternatif bacaan menarik bagi buah hatinya.

“Kalau saya sangat bermanfaat ya. Pertama karena memang bukunya banyak dan bervariasi. Anak-anak bisa pilih mana yang paling dia suka. Kedua karena suasananya di luar kelas jadi tidak dibatasi jam pelajaran. Anak-anak bisa membaca sepuasnya,” pungkasnya.