Minat Baca Tak Cukup dengan Kemauan, Dispusip Mamuju Jawab Tantangan Akses Bacaan Anak Melalui Perpustakaan Keliling
Mamuju – Minat baca anak tidak selalu mati karena mereka enggan membaca. Kadang, mereka hanya kekurangan buku untuk dipilih.
Gambaran itu terlihat di SDN 3 Mamuju, Jumat (5/8). Begitu mobil perpustakaan keliling Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Mamuju tiba, sebanyak 166 siswa langsung mengerumuninya.
Mereka mencari buku cerita, dongeng, komik hingga bacaan bergambar yang tidak setiap hari mereka temukan di sekolah. Hari itu, sebuah mobil membawa lebih dari sekadar buku.

Ia membawa pilihan. Alternatif bagi anak untuk menemukan cerita yang mereka sukai. Ragam ilustrasi bagi mereka yang lebih tertarik pada gambar. Sekaligus kesempatan bagi siswa yang belum lancar membaca untuk mengenal buku tanpa tekanan suasana belajar dalam kelas.
Pelataran SDN 3 Mamuju pun berubah menjadi ruang baca terbuka. Ada siswa yang duduk bersila di atas rumput. Sebagian membaca depan kelas. Siswa lainnya memilih tempat bawah pohon. Beberapa bahkan masuk ke dalam mobil layanan untuk mencari bacaan yang dianggap menarik.
Layanan berlangsung sekitar pukul 09.00 WITA. Aktivitas sempat berjalan lebih lambat karena siswa sedang mengikuti kegiatan Jumat Beriman. Begitu kegiatan selesai, siswa kembali memenuhi area layanan.

Buku cerita binatang, dongeng, komik, dan buku bergambar menjadi incaran. Siswa yang belum lancar membaca tampak membolak-balik halaman dan mencari ilustrasi yang menarik. Sementara siswa yang sudah lancar membaca dapat langsung memilih bacaan sesuai minatnya.
Pegawai Dispusip tidak sekadar membawa dan menata buku. Mereka ikut membantu siswa membaca. Sebagian lainnya membacakan dongeng.
Dengan cara itu, layanan perpustakaan keliling tidak hanya memindahkan koleksi buku dari gedung perpustakaan ke sekolah. Layanan tersebut juga menciptakan suasana baru yang membuat anak lebih dekat dengan bacaan.

Kepala Dispusip Mamuju, Syarifuddin, melihat antusiasme siswa sebagai sinyal penting bagi upaya meningkatkan budaya membaca. Menurutnya, setiap kunjungan memperlihatkan respons siswa yang kuat terhadap kehadiran buku.
“Antusiasme anak-anak saat mengunjungi sekolah sangat luar biasa. Begitu mobil masuk ke pekarangan, mereka langsung mengerumuni. Ini menunjukkan adanya ketertarikan anak-anak terhadap buku dan kegiatan membaca,” ujar Syarifuddin.
Menurut dia, kondisi tersebut memperkuat alasan pemerintah untuk mendekatkan layanan perpustakaan kepada sekolah. Antusiasme siswa menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap bahan bacaan masih besar dan harus direspons dengan memperluas akses layanan.

Perpustakaan, kata Syarifuddin, tidak cukup hanya menunggu pembaca datang ke gedung layanan. Buku juga harus bergerak mendatangi anak-anak, terutama mereka yang belum memiliki akses bacaan yang cukup.
“Ini menjadi tugas utama kami, terus mengelilingi dan mengunjungi sekolah agar anak-anak mendapatkan akses terhadap bacaan berkualitas. Harapannya, mereka memiliki wawasan yang lebih luas dan tumbuh menjadi generasi yang lebih cerdas,” ucapnya.
Namun, upaya memperluas layanan itu belum sepenuhnya berjalan mulus. Syarifuddin mengakui keterbatasan anggaran membuat Dispusip belum mampu menjangkau seluruh sekolah secara rutin.

Keterbatasan itu diperparah oleh kondisi armada. Dispusip Mamuju saat ini hanya memiliki satu mobil operasional perpustakaan keliling, itu pun sudah berusia tua sehingga belum mampu menjangkau sejumlah wilayah pelosok.
Kondisi tersebut membuat kunjungan ke sekolah harus dilakukan secara bertahap, dengan menyesuaikan kemampuan armada dan prioritas wilayah yang membutuhkan layanan.
“Anggaran terbatas dan kondisi mobil layanan ini menjadi kendala kami bergerak. Tetapi keterbatasan itu bukan berarti kami berhenti. Kami tetap mencari celah dan solusi untuk memperluas jangkauan layanan,” tegas Syarifuddin.
Permintaan Tinggi, Layanan Dinanti

Kebutuhan terhadap layanan tersebut justru terus muncul dari sekolah. Menurut Syarifuddin, ada sekolah yang baru sekali mendapat kunjungan tetapi kembali meminta layanan. Di sisi lain, masih ada sekolah yang belum pernah memperoleh kunjungan perpustakaan keliling.
“Ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap layanan dan bacaan cukup besar,” sebutnya.
Kebutuhan itu bukan hanya menyangkut kehadiran perpustakaan keliling. Persoalan lain yang ditemukan Dispusip adalah ketimpangan koleksi buku antarsekolah.
Dari sejumlah sekolah yang dikunjungi, Syarifuddin menemukan sekolah yang memiliki banyak buku, tetapi sebagian merupakan koleksi lama. Di sisi lain, ada sekolah yang masih sangat kekurangan referensi bacaan.

“Di beberapa sekolah yang kami kunjungi, ada yang memiliki banyak buku, tetapi ternyata sebagian merupakan buku-buku lama. Ada juga sekolah yang memang sangat kurang referensi bacaannya,” ungkap Syarifuddin.
Temuan tersebut membuat Dispusip mulai memikirkan solusi. Bahkan, Syarifuddin pun telah berkomunikasi dengan Bupati Mamuju untuk menyelesaikan persoalan itu. Tidak lain, agar tersedia koleksi bacaan yang dapat menjangkau sekolah yang paling membutuhkan.
Jika mendapat buku baru hasil pengadaan maupun koleksi yang tersedia di kantor, kata dia, dapat menjadi sumber bacaan tambahan bagi sekolah yang kekurangan.

“Kami akan berusaha semampu kami. Mudah-mudahan ke depan ada kreasi bagaimana buku-buku yang tersedia, baik buku baru maupun koleksi yang ada di kantor, dapat disebarkan ke sekolah-sekolah yang memang sangat kekurangan buku,” katanya.
Di SDN 3 Mamuju, kebutuhan itu terlihat jelas dari cara siswa memilih bacaan. Nur Fadilah, siswa kelas 4, memilih buku cerita binatang. Ia tertarik pada buku bergambar tentang kupu-kupu.Pilihan Fadilah mungkin sederhana. Namun, dari situlah proses membaca dapat dimulai.
Seorang anak tidak harus langsung menyukai semua jenis buku. Ia hanya membutuhkan kesempatan untuk menemukan satu bacaan yang membuatnya tertarik membuka halaman berikutnya.
Karena itu, keberagaman koleksi menjadi penting dalam membangun minat baca. Ada anak yang tertarik cerita. Ada yang menyukai gambar. Ada yang menyukai tokoh binatang. Ada pula yang baru tertarik membaca setelah menemukan buku yang sesuai dengan dunianya.
Membawa Buku Lebih Dekat, Membuka Lebih Banyak Pilihan

Perpustakaan keliling memberikan kesempatan itu. Bagi SDN 3 Mamuju, kehadiran layanan tersebut juga menjadi tambahan dukungan bagi kegiatan literasi sekolah.
Anak-anak tidak hanya mendapatkan waktu untuk membaca. Akan tetapi, juga memperoleh pilihan bacaan yang lebih banyak dalam satu kunjungan.
Di sinilah perpustakaan keliling memiliki fungsi yang lebih besar daripada sekadar kendaraan pembawa buku. Ia menjadi jembatan antara anak dan bacaan.
Sekolah mungkin memiliki perpustakaan, tetapi jumlah dan keberagaman koleksi belum tentu cukup. Perpustakaan keliling kemudian mengisi ruang yang belum mampu dipenuhi sekolah.

Bagi pemerintah daerah, pola seperti itu juga memberi kesempatan untuk melihat langsung kebutuhan literasi setiap sekolah.
Sekolah yang kekurangan buku dapat dipetakan. Sekolah yang membutuhkan kunjungan lebih rutin dapat diketahui. Sementara koleksi yang tersedia dapat diarahkan ke tempat yang paling membutuhkan.
Syarifuddin berharap layanan tersebut dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak sekolah.
“Sekolah-sekolah yang sangat kurang referensi bacaannya akan kami upayakan untuk dikunjungi dan dibawakan buku yang dapat mereka baca, meskipun waktu kunjungan di setiap sekolah terbatas,” katanya.

Tenaga pendidik SDN 3 Mamuju, Hanapiah menegaskan, antusiasme siswa saat perpustakaan keliling datang merupakan salah satu bukti. Anak-anak memiliki ketertarikan terhadap bacaan ketika pilihan buku tersedia.
Menurutnya, siswa yang biasanya membaca dalam situasi pembelajaran di kelas terlihat lebih aktif ketika diberi kesempatan memilih sendiri buku yang mereka inginkan.
“Begitu mobil perpustakaan datang, anak-anak langsung tertarik melihat buku-buku yang dibawa. Mereka memilih sendiri sesuai kesukaan masing-masing,” urai Hanapiah.
Ia menilai keberagaman koleksi menjadi bagian penting dalam membangun minat baca. Tidak semua anak memiliki ketertarikan pada jenis buku yang sama sehingga semakin banyak pilihan bacaan, semakin besar pula peluang anak menemukan buku yang membuat mereka tertarik membaca.

“Kehadiran perpustakaan keliling sangat membantu program literasi sekolah. Kami tidak hanya mendapatkan tambahan bahan bacaan, tetapi juga melihat anak-anak lebih antusias karena mereka mendapatkan pengalaman membaca dengan pilihan buku yang lebih beragam,” katanya.
Menurutnya, layanan tersebut sebaiknya terus dilakukan secara berkala karena sekolah membutuhkan dukungan untuk memperkaya pengalaman membaca siswa.
“Kalau layanan seperti ini bisa datang secara rutin, tentu sangat membantu. Anak-anak semakin terbiasa bertemu dengan buku dan memiliki kesempatan mengenal lebih banyak bacaan,” pungkas Hanapiah.


