Tujuh Event Sulbar Berebut Tiket KEN 2027

waktu baca 3 menit

Sulbar — Tujuh agenda pariwisata Sulawesi Barat kini memasuki persaingan untuk merebut tempat dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2027.

Setelah lolos tahap awal, ketujuh event tersebut harus melewati kurasi dan penilaian sebelum masuk kalender pariwisata nasional.

Tujuh event itu terdiri atas Festival Sandeq Teluk Mandar 2027, Sandeq Silumba, Festival Banua Maraya, Mandar Culture Festival, Festival Penyu Mampie, Sandeq Festival, dan Festival Bulan Mamasa.

Masuknya tujuh agenda tersebut menjadi peluang bagi Sulbar memperluas panggung promosi pariwisata. Namun, status sebagai peserta seleksi belum menjamin seluruhnya masuk KEN 2027. Kualitas konsep, tata kelola, daya tarik, promosi, serta potensi dampak bagi daerah akan menjadi bagian penting dalam tahapan berikutnya.

Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Dispoparekraf) Sulbar kini memperkuat pendampingan terhadap para penyelenggara. Pendampingan mencakup penyempurnaan konsep, tata kelola event, kelengkapan administrasi, hingga strategi promosi.

Kepala Dispoparekraf Sulbar Bau Akram Dai mengatakan capaian tersebut lahir dari proses persiapan bersama antara penyelenggara, pemerintah provinsi, dan dinas pariwisata kabupaten.

“Kami memberikan apresiasi kepada para penyelenggara event dan Dinas Pariwisata kabupaten. Mereka telah menunjukkan keseriusan dalam mempersiapkan event, mulai dari konsep hingga kelengkapan yang menjadi bagian dari proses seleksi KEN. Ini adalah hasil kerja kolaboratif yang harus terus kita jaga,” ujar Bau Akram saat ditemui di Kantor Dispoparekraf Sulbar, Senin, 5 Oktober 2026.

Bau Akram menilai persaingan pada tahap kurasi tidak cukup hanya mengandalkan kemeriahan acara. Setiap event harus memiliki identitas kuat, pengelolaan profesional, dan kemampuan menggerakkan kunjungan wisatawan serta ekonomi lokal.

“Dispoparekraf Sulbar akan terus hadir memberikan pendampingan, baik dalam penguatan konsep, tata kelola maupun aspek promosi. Kita ingin event-event daerah tidak hanya memenuhi persyaratan seleksi, tetapi benar-benar memiliki kualitas dan daya saing sehingga mampu menjadi etalase pariwisata Sulawesi Barat di tingkat nasional,” lanjutnya.

Target itu sejalan dengan agenda pemerintah provinsi yang menempatkan pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai salah satu ruang pertumbuhan ekonomi baru. Event tidak lagi sekadar menjadi pertunjukan tahunan, tetapi instrumen untuk menggerakkan pelaku usaha, memperkenalkan destinasi, serta memperluas pasar produk ekonomi kreatif.

Kepala Bidang Industri, Investasi dan Pemasaran Pariwisata Dispoparekraf Sulbar Abdi Yansya Hijrah mengatakan promosi harus berjalan sejak tahap persiapan, bukan menunggu acara berlangsung.

“Event-event ini bukan hanya agenda pertunjukan, tetapi juga menjadi media untuk menjual destinasi, budaya dan ekonomi kreatif Sulawesi Barat. Karena itu, promosi harus disiapkan sejak awal dengan memanfaatkan media digital, jejaring promosi dan kolaborasi, sehingga semakin banyak wisatawan yang tertarik datang ke Sulbar,” jelas Abdi.

Ketujuh event selanjutnya menghadapi proses kurasi dan penilaian sesuai mekanisme Kementerian Pariwisata. Pemerintah provinsi akan mendampingi penyelenggara hingga tahap penetapan.

Bagi Sulbar, persaingan itu bukan semata soal menambah jumlah event dalam kalender nasional. Tantangan sesungguhnya ialah membuktikan bahwa setiap agenda mampu mengubah perhatian wisatawan menjadi kunjungan, kunjungan menjadi transaksi, dan transaksi menjadi perputaran ekonomi bagi masyarakat.

error: Konten Ini Dilindungi !!!
Putar suara